Teks Eksplanasi


Teks eksplanasi merupakan sebuah karya tulis yang memuat penjelasan sebuah peristiwa atau fenomena melalui tahapan-tahapan dengan membentuk pola tertentu. Peristiwa atau fenomena dapat dibedakan menjadi tiga jenis berdasarkan fungsinya, yakni peristiwa yang alami (natural), yang sifatnya sosiokultural, maupun yang mengalami campur tangan manusia. Fenomena natural terjadi dengan tidak dibantu oleh tangan manusia, tetapi murni karena proses alam, seperti gempa, tsunami, dan gunung berapi. Sementara itu, fenomenia sosiokultural contohnya adalah pembuatan batik, pakaian tradisional, dan alat musik. Adapun fenomena yang mengalami campur tangan manusia yaitu kejadian alam yang dalam pengelolaannya ada keterlibatan tindakan manusia, seperti menanam padi.

Adapun ciri-ciri teks eksplanasi sebagai berikut.

  1. Strukturnya terdiri dari pernyataan umum, urutan sebab-akibat, dan interpretasi.
  2. Memuat informasi berdasarkan fakta.
  3. Fakta tersebut memuat informasi yang bersifat ilmiah.
  4. Bersifat informatif dan tidak berusaha untuk memengaruhi pikiran atau pandangan pembaca
Berikut adalah struktur dari teks eksplanasi.
  1. Pernyataan umum: berisi pernyataan yang umum mengenai topik yang akan dibahas dan dijelaskan prosesnya.
  2. Urutan sebab-akibat: berisi mengenai detail penjelasan proses terjadinya suatu fenomena secara runtut dan jelas.
  3. Interpretasi: berisi tentang kesimpulan mengenai topik yang telah dijelaskan.
Di dalam teks eksplanasi, biasanya mengandung ciri kaidah kebahasaan berikut.

  1. Terfokus pada hal-hal yang umum, bukan partisipan manusia.
  2. Sebisa mungkin menggunakan istilah-istilah ilmiah.
  3. Lebih banyak menggunakan verba material dan verba rasional.
  4. Menggunakan konjungsi waktu dan kausal (sebab-akibat).
  5. Menggunakan kalimat yang bersifat pasif
  6. Ditulis untuk membuat justifikasi bahwa sesuatu yang diterangkan secara kausal itu benar adanya.
Berikut merupakan salah satu contoh dari teks eksplanasi.


Pernyataan Umum :
Gempa bumi merupakan getaran atau goncangan yang terjadi karena pergeseran atau pergerakan lapisan batu bumi yang berasal dari dasar permukaan bumi.
Peristiwa alam ini sering terjadi di daerah yang berada dekat dengan gunung berapi atau gunung yang masih aktif dan di daerah yang dikelilingi lautan yang sangat luas.
Deretan Penjelasan Sebab Akibat :
Gempa bumi terjadi karena pergesaran atau gerakan lapisan dasar bumi dan letusan gunung berapi yang sangat dahsyat. Selain itu, gempa bumi terjadi begitu cepat dengan dampak yang sangat besar bagi lingkungan sekitarnya.
Getaran gempa bumi yang sangat besar dan merambat ke segala arah sehingga dapat meratakan bangunan dan menimbulkan korban jiwa. Berdasarkan penyebab terjadinya, gempa bumi dapat digolongkkan menjadi dua jenis, yaitu gempa vulkanik dan gempa tektonik.
Gempa tektonik terjadi karena lapisan kerak bumi menjadi lunak sehinggal mengalami pergeseran atau pergerakan. Teori “Tectonic Plate” menjelaskan bahwa bumi kita ini terdiri dari beberapa lapisan buatan.
Sebagian besar daerah lapisan kerak ini akan hanyut dan mengapung di lapisan, seperti halnya salju. Lapisan ini bergerak sangat lambat sehingga terpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lain.
Itulah yang menyebabkan mengapa gempa bumi dapat terjadi. Sementara itu, gempa bumi vulkanik terjadi dikarenakan adanya letusan gunung berapi yang sangat besar. Gempa vulkanik ini lebih jarang terjadi dibandingkan dengan gempa tektonik.
Interpretasi :
Gempa dapat terjadi kapan saja tanpa mengenal musim. Meskipun demikian, konsentrasi gempa cenderung terjadi ditempat-tempat tertentu saja, seperti pada perbatasan Plat Pasifik. Tempat ini dikenal dengan lingkaran api karena banyak terdapat gunung berapi.

Kebahasaan
1) Kalimat aktif intransitif.
     Kalimat aktif transitif merupakan sebuah klausa yang subjeknya melakukan sebuah perilaku atau tindakan secara langsung terhadap objeknya, atau dengan kata lain kalimat ini adalah kalimat aktif yang membutuhkan objek dalam aktivitasnya.
         contoh: Ibu menanak nasi.

2) Kalimat aktif intransitif.
        Kalimat aktif intransitif merupakan kalimat yang predikatnya menggunakan verba intransitif. Jenis verba ini merupakan jenis verba yang tidak perlu dibubuhkan objek saat verba tersebut dijadikan predikat suatu kalimat. Dengan demikian, pola kalimat ini adalah S-P. Meski begitu, pola kalimat aktif intransitif juga bisa berpola S-P-Pel maupun S-P-K. Jenis kalimat aktif ini tidak bisa dibentuk ke dalam bentuk pasif seperti halnya kalimat aktif transitif.
        contoh: Aku bertemu dengannya di Stasiun Tugu, Yogyakarta.

3) Kalimat pasif.
        Kalimat pasif merupakan salah satu jenis kalimat yang berdasarkan pada subjek kalimat tersebut. Dalam kalimat pasif, subjek berperan sebagai korban yang dikenai suatu tindakan. Predikat pada kalimat ini biasanya bermibuhan di- ataupun ter-. Kalimat ini juga merupakan perubahan dari kalimat aktif, khususnya kalimat aktif transitif.
        contoh: Anto dikejar anjing.

4) Konjungsi.
        Konjungsi Atau Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat (Chaer, 2000:140). Berarti konjungsi merupakan kata tugas yang fungsinya menghubungkan antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Kata penghubung antarklausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat di awal kalimat (setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru), adapun kata penghubung antar paragraf letaknya di awal paragraf.
    contoh: Bagus membeli tahu dan tempe. (Konjungsi koordinatif penambahan)
                 Adi sebenarnya cerdas tetapi ia malas. (Konjungsi koordinatif perlawanan)
                 Mandra menyukai aviasi sejak lulus sekolah dasar. (Konjungsi subordinatif)
                 Itu bukanlah makanan, melainkan pajangan semata. (Konjungsi korelatif)
                 Saya kurang setuju. Namun, itu bisa dipertimbangkan. (Konjungsi antarkalimat)

Comments